Home / Islami / Setelah Baca Ini, Yakin Masih Minta Dikirim Oleh-oleh?

Setelah Baca Ini, Yakin Masih Minta Dikirim Oleh-oleh?

Minta dikirim oleh-oleh merupakan perbuatan yang sudah dianggap biasa dan wajar di kalangan masyarakat Indonesia. Ketika ada keluarga atau kerabat yang bepergian ke luar kota, kita suka minta dikirim oleh-oleh khas kota yang dikunjunginya.

Setelah Baca Ini, Yakin Masih Minta Dikirim Oleh-oleh
Gambar oleh-oleh by Kaskus.co.id

Tahukah Anda bahwa Islam melarang kita meminta dikirim oleh-oleh? Jika Anda mau tahu alasannya, silakan simak hadits Nabi Muhammad saw. berikut ini:

“Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun,” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).

“Sesungguhnya harta ini adalah lezat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapat berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat berkahnya, dia bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” (HR. Al-Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1717).

Dari hadits di atas jelas bahwa Rasulullah melarang seorang muslim untuk meminta-minta dari orang lain, termasuk minta dikirim oleh-oleh. Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan yang menghinakan diri dan menujukkan sifat kurangnya rasa malu kepada sesama makhluk.

Dalam hadits di atas, Rasulullah menyebutkan balasan bagi orang yang suka meminta-minta adalah dia (orang yang suka meminta) akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong dagingpun yang melekat di wajahnya.

Dalam hadits lain disebutkan Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Saw bersabda, ”Berpergian (safar) itu adalah sebagian dari siksa. Ia menghalangi seseorang dari makan, minum dan tidurnya. Maka apabila seseorang telah selesai dari urusannya hendaklah ia segera pulang ke keluarganya,” (HR Bukhari dan Muslim).

“Dikatakan bagian dari azab, karena safar akan meninggalkan segala yang dicintai,” (Fathul Bari, Ibnu Hajar).

Baca juga : Benarkah Panggilan Abi dan Ummi pada pasangan diharamkan?

Tidak ada jaminan orang yang melakukan perjalanan (bepergian) bisa kembali, lalu mengapa kita bebani dengan titipan dan amanah yang membebani. Ringankanlah orang yang bepergian karena bepergian (safar) adalah potongan dari azab.

Namun jika yang sedang bepergian memiliki kelebihan rezeki, tidak ada salahnya jika sedikit membawa oleh-oleh tangan karena tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Sedangkan untuk yang dikirim oleh-oleh, bersyukurlah atas rezeki yang didapat karena barangsiapa yang bersyukur maka kenikmatannya akan semakin ditambah dan barangsiapa yang tidak bersyukur maka ia akan mendapat adzab yang sangat pedih.

About Husni Cahya Gumilar

Tetangga mengenal saya sebagai Guru Honorer, Blogger, Traveler & Web Developer. Dulu saya manis semanis dodol Garut, tapi sekarang imut seimut domba Garut. Ya, orang Garut memang manis dan imut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *