Home / Pendidikan / Penulisan Yang Benar, Ramadan, Ramadlan atau Ramadhan?

Penulisan Yang Benar, Ramadan, Ramadlan atau Ramadhan?

Penulisan Ramadan,  Ramadlan atau Ramadhan menjadi bahan pembicaraan yang menarik untuk kita bahas hari ini. Kita sering menemukan ada orang yang menulis Ramadan, Ramadlan atau Ramadhan. Ini cukup membingungkan dan mengundang tanya, mana penulisan yang benar dan sesuai ejaan yang disempurnakan?

Cara Menulis Ramadan menurut KBBI

Kalau melihat kosa kata dalam kamus besar bahasa Indonesia online (Kbbi.web.id), di sana saya tidak tidak menemukan kata Ramadlan atau Ramadhan. Kosa kata yang ada dalam Kbbi.web.id adalah Ramadan.

Penulisan Yang Benar, Ramadan, Ramadlan atau Ramadhan

Pengertian Ramadan menurut Kbbi.web.id adalah bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa.

Penulisan Yang Benar Ramadan, Ramadlan atau Ramadhan

Kesimpulan, penulisan yang benar menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah Ramadan, bukan Ramadlan atau Ramadhan.

Cara Menulis Ramadhan Menurut VOA-Islam

Namun, jika membaca penjelasan Akhmad Sekhu dalam artikelnya yang berjudul Meluruskan Salah Kaprah Kata “Ramadhan” dan “Ramadan” di situs VOA-ISLAM.COM, Ramadan dan Ramadhan memiliki arti yang berbeda.

Menurutnya, “Ramadhan” berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Di Jazirah Arab memang menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus) dan bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Hal itu terjadi berhari-hari, sehingga setelah beberapa pekan bisa terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Kemudian, orang-orang memahami ‘panas’nya Ramadhan secara kiasan. Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Dari akar kata tersebut kata “Ramadhan” digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata “Ramadhan” digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah.

Dalam artikel yang sama, Akhmad Sekhu menjelaskan kata Ramadan (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab artinya orang sakit mata mau muta, sehingga makna Ramadan dan Ramadhan tidak dapat disamakan.

Akhmad Sekhu menilai, penulisan kata “Ramadan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah salah kaprah dan perlu diluruskan. Karena kata “Ramadhan” memang sangat berbeda artinya dengan kata “Ramadan” tentu harus tetap digunakan kata “Ramadhan”.

Cara Menulis Ramadlan Mengikuti Huruf Latin Nahdlatul Ulama

Kalau kita melihat huruf latin Nadlatul Ulama, maka cara menulis yang benar adalah Ramadlan karena huruf ‘ض’ dalam kata Ramadlan sama dengan huruf ‘ض’ dalam kata Nahdlatul Ulama. Menurut kaidah Ulama NU, huruf ‘ض’ dibaca “DL”, bukan “D” atau “DH”.

Adapun kaidah cara menulis huruf hijriyah ke bahasa Indonesia atau huruf latin terdapat perbedaan. Menurut wikidpedia, ‘ض’ dibaca DH, sedangkan menurut JihadRamadlan.blogspot.com, huruf ‘ض’ dibaca “DL”.

Itulah cara penulisan Ramadan, Ramadhan dan Ramadlan menurut beberapa versi. Walaupun tulisan ini cukup membingungkan, namun pengucapan yang benar adalah yang sesuai dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Yang tidak benar adalah muslim yang tidak berpuasa di bulan رمضان.

Semoga bermanfaat dan perbedaan menjadikan hikmah serta tidak mengurangi kekhusukan kita melaksanakan ibadah puasa.

Selamat menjalankan ibadah puasa 1437 H, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin.

About Husni Cahya Gumilar

Husni Cahya Gumilar

Blogger Garut, Jawa Barat. Lembur banjar karang pamidangan pituin ti Banjarwangi.

One comment

  1. Mantab penjelasannya, tapi sy lbih memilih menulis ramadlan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *