Home / Bisnis / Menilik Peluang dan Tantangan Bisnis Online di Perdesaan

Menilik Peluang dan Tantangan Bisnis Online di Perdesaan

Saya asli penduduk desa. Lahir, tinggal dan bekerja menjemput rejeki di desa. Dulu pada tahun 1998 saya pernah hijrah ke kota, tapi bukan untuk bekerja. Melainkan untuk melanjutkan sekolah karena pada waktu itu di daerah saya belum ada SMA.

Zaman saya masih SMA, belum ada makhluk halus kekinian yang bernama media sosial atau toko online. Jangankan itu, handphone juga masih tergolong mewah. Yang mampu beli handphone hanya orang-orang tertentu. Bukan harga handphone-nya saja yang mahal, harga pulsanya pun masih selangit. Bahkan uang jajan saya sebulan tidak akan cukup kalau harus dipakai membeli pulsa.

Pertanyaannya, apakah harga pulsa saat itu sangat mahal atau uang jajan saya sangat kecil?

Entahlah.

Yang saya ingat voucher pulsa minimal saat itu adalah 100.000. Sementara jatah bekal saya dari orang tua hanya Rp. 75.000 per bulan. Biaya itu buat pengeluaran macam-macam mulai dari uang lauk pauk sampai ongkos dari kontrakan ke sekolah. Kalau mau jajan di sekolah, terpaksa dari kontrakan harus jalan kaki.

Yang sering bingung itu kalau sudah waktunya pulang kampung. Uang buat ongkos pulang sudah habis, kirim pesan ke orang tua mana bisa, kalau kirim surat bisa berminggu-minggu baru dapat kiriman. Solusinya saya menjual sisa beras ke warung di dekat kontrakan untuk ongkos pulang.

Walaupun begitu, semangat belajar saya tidak pernah surut. Bisa saya buktikan dengan selalu menjadi juara kelas dan lulus dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi di jurusan IPA.

Masa itu rasanya baru kemarin sore. Pergantian waktu dari tahun ke tahun nyaris tidak terasa, Indonesia sudah berubah lebih maju. Sekarang zamannya gadget dan internet, entahlah dengan esok atau lusa nanti.

Fakta hari ini

Anak yang belajar ke kota jumlahnya terus berkurang karena di perdesaan sudah berdiri sekolah-sekolah setingkat SMA. Pun di desa saya.

Handphone dan pulsa yang dulu mewah sekarang sudah lumrah. Internet telah menjangkau hampir ke seluruh desa di Indonesia. Kirim uang bisa sampai dalam hitungan detik, komunikasi antar pulau bisa dilakukan secara real time dengan saling bertatap muka. Tak heran jika anak sekolah zaman sekarang mainannya bukan bola atau yoyo, tetapi smartphone.

Berdasarkan data statistik yang dilansir Databoks.co.id (8/12), pada tahun 2016 tercatat ada 132 juta rakyat Indonesia yang menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Dari jumlah tersebut, 75% di antaranya adalah anak-anak dan remaja.

Peluang dan tantangan bisnis online di desa
Sumber: Databoks.co.id

Kemudian pada 14 Desember 2016, Databoks.co.id juga melansir alasan masyarakat Indonesia di perdesaan dan perkotaan menggunakan internet. Alasan paling banyak adalah untuk mengakses media sosial, yaitu 82,05%. 73,50% untuk mengakses berita, 45,10% untuk mendapatkan hiburan, 35,08% untuk mengerjakan tugas sekolah, 27,8% untuk mengakses email, 11,33% untuk jual beli dan 12,27% untuk keperluan finansial lainnya.

Peluang dan tantangan bisnis online di desa 2
Sumber: Databoks.co.id

Penetrasi teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia terus meningkat. Hal ini telah memberi pengaruh banyak terhadap kehidupan masyarakat perdesaan, termasuk pada gaya hidup dan kegiatan ekonomi. Masyarakat di perdesaan sudah terbiasa menggunakan internet seperti untuk mencari informasi, belanja online dan berinteraksi di media sosial.

Jika dilihat dari jumlah konsumen online di Indonesia, pada 2016 mencapai 8,6 juta jiwa. Dan kemungkinan jumlahnya akan meningkat pesat pada tahun 2017 ini.

Peluang dan tantangan bisnis online di perdesaan 2
Sumber: Databoks.co.id

 

Potensi Ekonomi Digital di Indonesia

Secara nasional, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberi kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi rakyat Indonesia. Masyarakat berlomba-lomba membuat online shop, blog, marketplace dan startup berbasis aplikasi Android atau iOS.

Di saat yang sama, pemerintah juga menargetkan Indonesia menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020.

Sekarang apa yang tidak tersedia di internet? Mau nyari atau jual barang dan jasa apapun tinggal membuka smartphone. Transaksi online jumlahnya sangat fantastis. Coba Anda lihat infografik dari Katadata.co.id berikut ini.

Peluang dan tantangan bisnis online di perdesaan
Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik, Sumber: Katadata.co.id

 

Peluang bisnis online untuk masyarakat perdesaan

Setelah kita menyimak ulasan perkembangan ekonomi digital Indonesia yang sangat pesat, muncul pertanyaan, bisnis online apa yang cocok untuk masyarakat perdesaan?

Nah, untuk menjawab pertanyaan itu saya perlu tambahkan satu statistik lagi sebagai bahan analisa.

Peluang dan tantangan bisnis online di perdesaan 3
Produk terlaris saat hari belanja online nasional (12-14 Desember 2016) via Databoks.co.id

Dari data-data statistik di atas, bisnis online yang paling cocok dijalankan oleh masyarakat perdesaan adalah transaksi e-commerce, baik barang maupun jasa. Jasa di sini adalah jasa yang tidak melayanani konsumen secara langsung seperti ojek online, tetapi misalnya jasa pembuatan website, jasa penulis artikel, jasa tambah follower fanpage, jasa travel lokal dan lain-lain.

Dari data statistik di atas saya mencatat sedikitnya 3 poin penting, yaitu:

  • Target pasar potensial adalah usia 10 – 34 tahun.
  • Media potensial untuk bisnis online adalah media sosial, online shop dan marketplace.
  • Dari 8,6 juta konsumen online, 68% memilih belanja online produk fashion.

Kesimpulan sementara Anda bisa jualan produk fashion anak muda di media sosial, toko online atau membuat lapak di marketplace.

 

Tantangan dan solusi yang saya tawarkan

Masalah 1. Kesulitan mendapat stok barang

Permasalahan di desa antara lain sulit mendapat stok barang murah karena jarak ke kota cukup jauh. Sehingga tidak mungkin kalau setiap ada order barang harus belanja dulu ke kota. Rugi jadinya.

Solusi:

Bisnis online tak perlu memiliki stok barang. Anda bisa jualan produk fashion, gadget, elektronik, kosmetik dan produk lainnya dengan cara dropship.

Dropship yaitu menjual barang orang lain atas nama Anda sendiri. Barang akan dikirim oleh penjual ke pembeli, dengan identitas pengirimnya memakai nama toko Anda.

Selain fashion, elektronik dan kosmetik, permintaan terhadap barang sehari-hari dan kebutuhan makanan pun jumlahnya lumayan tinggi. Anda bisa menjual buah/sayur segar atau makanan olahan khas desa.

Masalah 2. Media jualan

Tidak punya banyak follower media sosial, tidak punya toko online dan tidak punya lapak di marketplace.

Solusi:

Ini sebetulnya bukan masalah. Masyarakat di kota dan di desa yang terhubung ke internet punya peluang sukses yang sama. Jika memang sudah bulat mau bisnis digital, bisa memasang iklan di media sosial, membuat toko online lewat jasa pembuatan website di internet dan membuat lapak gratis di marketplace.

Masalah 3. Kurang paham ilmu bisnis online

Tidak mengerti bagaimana menulis copywriting, SEO, dll.

Solusi: Solusinya belajar. Bisa cari sendiri tutorial gratis di internet, membeli buku atau membeli ebook.

Masalah 4. Jasa Kurir

Jasa kurir belum belum menjangkau ke desa-desa.

Solusi: Anda bisa menggunakan jasa pengiriman via Kantor Pos.

Jika tantangan-tantangan ini dianggap terlalu berat atau belum menemukan produk desa yang bisa Anda jual lewat internet, saya tawarkan opsi lain yang lebih mudah.

Anda bisa membidik pengguna yang mengakses internet untuk alasan mencari berita (73,50%), hiburan (45,10%) dan mengerjakan tugas sekolah (35,08%). Jumlah pengguna dengan alasan tersebut volumenya sangat besar.

Anda bisa memilih jadi blogger dengan target pembaca usia 20-34 tahun. Saya yakin ini bisa Anda lakukan dari desa. Buktinya adalah blog yang sedang Anda baca ini.

Ada banyak cara menghasilkan uang dari blog, bisa lewat iklan PPC, afiliasi, sponsor post dan lain-lain.

Anda mungkin akan bertanya, Husni sendiri sudah melakukan apa?

Sejak awal tahun 2015 saya mulai menekuni blogging, jasa pembuatan website dan penulis artikel. Dan pada akhir tahun 2016 saya memanfaatkan internet untuk menawarkan paket wisata river tubing yang baru dibuka di desa saya. Hasilnya Alhamdulillah sangat memuaskan.

 

Kesimpulan

Indonesia merupakan pasar potensial untuk pengembangan ekonomi digital di Asia Tenggara. Prediksi transaksi e-commerce di Indonesia pada tahun 2020 akan mencapai Rp. 1.700 triliun atau 6,5 kali lipat dari transaksi pada tahun 2016.

Internet sudah bisa dirasakan oleh semua termasuk oleh masyarakat di perdesaan. Ini telah membuka peluang usaha baru bagi warga perdesaan. Warga desa harus mampu bersaing sehat dalam kegiatan ekonomi digital seperti jualan online produk pakaian, makanan atau oleh-oleh khas desanya masing-masing lewat media sosial, toko online atau lapak gratis di marketplace.

Dalam berbisnis, Anda pasti membutuhkan data-data statistik untuk bahan analisa sebelum pengambilan sebuah keputusan. Di zaman internet, Anda tidak perlu turun ke lapangan untuk sekadar survey pasar. Anda bisa mengambil rujukan statistik Indonesia dari website Databoks.co.id.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam!

About Husni Cahya Gumilar

Husni Cahya Gumilar

Blogger Garut, Jawa Barat. Lembur banjar karang pamidangan pituin ti Banjarwangi.

34 comments

  1. lagi – lagi saya yang newbie ini,,,,,menuai ilmu baru dari blog dan artikel mas husni ini.

    saya serasa mendapat ilmu baru dari gaya tulisan mas husni yang menggunakan perpaduan antara pengalaman dan FAKTA yang terjadi sekarang ini.

    kalau boleh tahu kapan mas mulai ngeblog ?

    kalau usaha warnet didesa itu, apakah termasuk bisnis online juga mas…?

    prospek bisnis online, sangat cerah dimasa akan datang, sebab rata2 orang menggunakanperangkat elektronik yang terhubung dengan internet.

    dan orang cenderung ingin belanja dengan cara mudah.

  2. Husni Cahya Gumilar

    Terima kasih atas apresiasinya Kang, semoga tulisan saya yang sederhana ini bermanfaat.

    Saya mulai menekuni blogging dan bisnis online pada Februari 2015, sebelumnya ngeblog cuma buat curhat. Quota internet juga cuma habis buat main medsos.. hehehehe

    Kalau warnet kayanya bukan bisnis online kang. Warnet desa bisa jadi solusi buat warga desa yang ingin bisnis online tapi belum punya perangkat sendiri.

    Dari data statistik begitu kang. Prospek bisnis online sangat cerah menjelang 2020. Ayo semangat kang..

  3. blogging termasuk bisnis online kan mas?
    lumayan lama juga..

    saya baru mulai serius menekuni blogging baru bulan 12 kemarin..

    semoga aja bisa bertahan lama seperti mas husni dan kang nata..

    • Husni Cahya Gumilar

      Entahlah bang, blogging termasuk bisnis online atau tidak. Yang jelas, blog bisa saya gunakan untuk mendapatkan uang lewat internet. Melalui blog saya bisa jualan barang, jasa, menawarkan produk2 afiliasi, berbagi informasi dan banyak lagi.

      Kalau bisa jangan sekadar bertahan bang, tapi harus berkembang terus sampai maju. 2020 sebentar lagi, jangan sampai kita cuma jadi penonton. Harus jadi pemain.. He

      • Berarti bisa di katakan sebagai bisnis online juga, apalagi blog bisa mencakup beberapa bisnis sekaligus ya..

        bener, syukurlah saya bisa kenal blogging, meski terlambat..
        semoga bisa berkembang deh blog mas husni terus..

        amin

        • Husni Cahya Gumilar

          Sepertinya iya. Sekarang blogging tidak sekadar aktifitas menulis bang tapi seperti yang abang bilang, mencakup banyak bisnis.

          Aamiin bang, semoga blog kita tambah berkembang & bermanfaat bagi para pembaca.

  4. Wah ini bener-bener tulisan yang menggugah. Apalagi bidikan “perdesaan”, yang pada umumnya dipersepsi jauh dari urusan online. Saya sependapat mas Husni, jika menulis (apalagi secara online) sangat bermanfaat, tak hanya bisa berbagi gagasan dan pengalaman kita saja kepada dunia (cieee…. niru-niru tagline “Hello World” hehe… 🙂 ), namun juga bisa menggaet manfaat ekonomi, bikin duit. Yes, abad online, kita sambut dengan tatacara yang kompatible ya mas… Sip!

    • Husni Cahya Gumilar

      Terima kasih Pak WK. Iya pak, meskipun masih belum merata,desa sekarang sudah bisa mengakses internet. Di abad online persaingan pelaku bisnis dari kota dengan desa tak ada sekat.
      Modalnya kepercayaan ditunjang oleh infrastruktur blog/online shop yang bagus dan kuasai halaman 1 mesin pencari. Peluangnya sama.

      Sekali online 2, 3 manfaat terlampaui ya Pak..hehe

      • Yupz mas.. Banyak manfaat terlampaui…. Dan sambil menunggu kesiapan infrastruktur teknologi informasi untuk perdesaan yang belum merata pada desa-desa di Indonesia, kita bisa menyiapkan hal-hal “kecil” sebagai pendahulu, semisal mengkampanyekan penggunaan piranti pendukung aktivitas ekonomi desa berbasis internet, di desa yang telah siap perangkat pendukungnya. Syukur kalau pemerintah desa mau mengkoordinasikan kegiatan ekonomi rakyat secara integratif berskala desa, dengan memanfaatkan basis internet.

        • Husni Cahya Gumilar

          Kalau pemerintah desa mendukung, saya rasa ekonomi digital di perdesaan akan cepat tumbuh pak. Desa misalnya menyiapkan hotspot area agar penduduk, anak muda khususnya, bisa mengakses internet gratis, menggali informasi bisnis online, berdiskusi, menggali & menuangkan ide-ide kreatifnya.

          Jika sumber daya dan tool bisnis online-nya sudah siap, pemerintah desa kan bisa kolaborasi untuk menjual produk2 hasil karya warga desanya melalui jaringan internet.

  5. Wah kang Husni, bisa jadi pencerahan nih bagi para muda mudi yang hanya sibuk dengan gadget mereka tanpa tau fungsi dan manfaat lain dari gadget. Mungkin kedepannya akan ada gerakan kampung internet ya kang, agar penggunaanya bukan hanya sebagai alat komunikasi saja, tetapi juga bisa menjadi mesin penghasil uang.
    Jadi pengen punya bisnis online di kampung nih. Biar nggak ngerantau terus.

    • Husni Cahya Gumilar

      Terima kasih Teh Alia, mudah2an warga desa bisa dibantu orang2 hebat seperti Teh Alia. Saya ingat kata2 dalam FTV, “jika orang-orang hebat hijrah ke kota, siapa yang akan membangun desa?”.he

  6. jadi dropshipper paling mudah untuk persoalan ini mas.
    kita gk perlu stock barang asal pandai komunikasi aja.

    • Husni Cahya Gumilar

      Sip, saya setuju mas Dimas. Pemasarannya bisa via media sosial, tinggal posting2 gambar produk yang mau dijual. Asal selektif aja memilih produk dan penjual soalnya mempertaruhkan nama baik kita juga.

  7. GUNAWAN tea ning

    Pakta anak muda di kampung saya,( ingat tidak menyebut kampung yang lain ya’) 99,9% internet digunakan untuk media sosial,cari jodoh,cinta sejati ataupun juga cinta semu,,,,hhehe.dan sisa nya 0,1 persen termasuk anak muda seperti saya ( upz…gkgkgkgk)……memanfaatkan internet untuk usaha kecil kecilan,dan tentunya pencerahan dari Kang Husni yang selalu saya tunggu,maklum lah kang …saya ini fokus tingkat jadul,jadi rada telat telat gitu sama hal baru,,,bagus sekali artikel nya sangat membantu sekali…hatur nuhun

    • Husni Cahya Gumilar

      Sama kang Gun, di kampung saya juga begitu. Sementara ini waktu & quota internet cuma dihabisin untuk memburu like dan follower di sosmed, hehe
      Mudah2an kegiatan positif seperti yang kan Gunawan lakukan perlahan-lahan dapat menjadi virus buat anak muda lainnya.

  8. Pangsa pasar yang belum banyak digarap toh kang. Siap-siap berjuang jika memang ini terjun ke sana. Ibarat buka lahan hutan, butuh kerja keras tentunya. Tapi kalau sudah berhasil, jangan ditanya lagi hheee

    • Husni Cahya Gumilar

      Mantap jiwa! Target pasarnya puluhan sampai ratusan juta orang, tapi kalau bisnis kita tidak menonjol jangan harap bisa menikmati hasil karena di luar sana juga banyak pebisnis berpengalaman. Tapi kita optimis aja sambil terus meningkatkan kapasitas dan kepercayaan ya mas.

  9. Ajaib tulisannya.. Ajaib data yg ditampilkan dari databoks-katadata.. Ajaib analisanya.. Ajaib bidikannya.

    Mau usaha apapun sekarang bisa dg adanya internet. Hidup di desa jg ga masalah.. Ga punya produk jg ga masalah.. Sudah saatnya melihat potensi ini jadi tantangan sekaligus peluang.. Kalo tdk segera action, kita akan ketinggalan kereta..

    Hidup untuk kita semua..

    • Husni Cahya Gumilar

      Terima kasih Kang Aef.
      Berlari mengejar kereta itu cape, jadi lebih baik kita mulai dari sekarang daripada ketinggalan kereta. Apalagi kalau cuma jadi penonton di kereta milik sendiri. hehe

  10. Yang jadi kepikiran saya bagaimana peluang bisnis Online di Indonesia bagian timur

    kita sama-sama tahu, perkembangan telekomunikasi disana masih lambat, belum seperti bagian barat…

  11. betul sekali mas, toko online sering dan banyak sekali hanya di kota-kota besar dengan tingkat persaingan yang sangat ketat. tapi di desa masih lumayanlah… hehehe

  12. Yan yan hidayat

    Mantep, potensi yang luar biasa…
    Manfaatkan peluang susun strategi..

    Analisisnya lengkap…

  13. Ini kesempatan bagi pelaku ekonomi di pedesaan untuk memanfaatkan digitalisasi. Insaya Allah bakal lebih maju untuk pendapatan di desa.

    • Husni Cahya Gumilar

      Jika sudah banyak warga di perdesaan yang terjun ke bisnis digital maka daya beli masyarakat di desa juga akan meningkat. Sementara ini kan uang dari desa banyak ditarik ke kota. Nah dengan bisnis digital, desa juga bisa narik uang dari kota sehingga perputaran uang tidak terlalu timpang.

  14. Dengan demikian di desapun kita bisa berpenghasilan.. Dari bisnis online.. Apa yang membuat alasan lagi? Dalam postingan ini bgtu kumplit .. Inovasi dan solusinya 😀

  15. Makin mantep aja tampilan blognya kang… Gak kalah menarik dengan konten yang disajikan. Terlebih mengangkat tema pedesaan ke ranah internasional (go online) tentunya bermanfaat sekali. Terimakasih sudah menginspirasi

  16. Tulisan yang luar biasa kang.

    Kata-kata yang tertuang sungguh enak dibaca, hampir puitis.

    Topik yang dibawakan pun sangat menarik. Yang biasanya penuh bahasa teknis namun mampu dibawakan dengan ringan tapi mendalam.

    Semoga karir ngeblognya semakin bercahaya, seperti nama Kang Husni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *