Mencari Alasan, Kenapa Peresmian Ditandai Dengan Memukul Gong?

Dalam sebuah obrolan kecil bersama teman-teman, muncul pertanyaan yang sulit dipecahkan, “Apa sebabnya, kalau peresmian suka pukul gong?”.

Pertanyaan tersebut membuat saya penasaran dan mencari jawabannya di Google, namun sampai artikel ini di-publish, saya belum menemukan jawaban kenapa simbol peresmian harus pukul gong?

Anda juga mungkin merasa penasaran, bukan?

Kenapa seorang pejabat memukul gong dalam rangka membuka sebuah acara, pembukaan seminar, pemakaian gedung baru, perusahaan baru, penataran dan peresmian ini-itu? Kemudian setelah tabuhan gong berbunyi “gung… gung… gung…”, hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah.

Belum ada sumber yang secara rinci menyebutkan asal usul pukul gong sebagai simbol peresmian atau pembukaan acara. Juga belum diketahui kapan tradisi pukul gong ini dimulai. Namun begitu, saya akan coba memberikan jawaban berdasarkan referensi yang ada.

Mencari Alasan, Kenapa Peresmian Ditandai Dengan Memukul Gong

Gong [Source Image]

Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis.

Sebagai sebuah alat musik, di Indonesia gong  menjadi pelengkap gamelan Jawa. Gong ada yang terbuat dari perunggu dan tembaga kuning, bentuknya bulat dengan benjolan di tengah. Apabila di pukul, gong akan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring dan berdengung “gung…”.

Pada zaman Wali Songo dan penyebaran agama Islam di tanah Jawa, Sunan Kalijaga menjadikan gong sebagai alat dakwah. Sunan Kalijaga merupakan penyebar Islam yang menempuh metode akulturasi budaya, beliau memberikan muatan makna Islam dalam pementasan wayang yang disertai iringan gamelan.

Oleh Sunan Kalijaga, bunyi “gung…” diartikan sebagai ajakan untuk menga-gung-kan asma Allah. Dalam urutannya, gong dibunyikan setelah bunyi saron yang mengeluarkan bunyi “nang.., ning.., nong..”. bunyi ini diartikan “nang kono, ning kono, nong kono” (di sana, di sini) mari semua gung (meng-agung-kan) nama Allah. Dan terakhir ditutup dengan suara Gurrr! dari gong raksasa yang dimaknai nyegur (mencebur) ke dalam Islam.

Mungkin, karena mengikuti cara Sunan Kalijaga lah kemudian tradisi pukul gong menjadi simbol peresmian, pembukaan gedung baru, penataran atau acara-acara besar di Indonesia. Tujuannya untuk menga-gung-kan asma Allah dengan harapan acara atau tempat yang diresmikan bisa sukses. Selain itu, suara tabuhan gong dan tepuk tangan diharapkan dapat membakar semangat hadirin.

Dikutip dari Kompasiana, walaupun ada pemaknaan seperti demikian dari Sunan Kalijaga, apakah pemukulan gong tetap pantas menjadi tradisi untuk memulai sebuah acara atau peresmian ini-itu?

Bukankah sebagai umat Islam, Nabi Muhammad telah mengajarkan untuk memulai setiap aktivitas dengan melafadz basmalah, “bismillahir rahmanir rahim”. Yang lebih parah lagi kalau ternyata pemukulan gong ini menjadi syarat mutlak terlaksananya sebuah acara pembukaan atau peresmian ini-itu.

Mungkin para pejabat yang memukul gong tersebut juga tetap mendahuluinya dengan ucapan basmalah, tapi apakah basmalah belum cukup kalau hanya sekedar mengharapkan rahmat Allah? Padahal Nabi Muhammad SAW telah mewanti-wanti “setiap perbuatan ummatku yang tidak didahului dengan bismillah tidak akan memperoleh rahmat”.

Itulah pemaparan yang bisa saya share hari ini. Saya sadar, artikel ini terlalu banyak kata ‘mungkin’ sehingga tidak cukup memberikan jawaban akurat mengapa simbol peresmian harus dengan memukul gong. Dan bisa juga menimbulkan pertanyaan baru, kenapa peresmian gedung baru dengan gunting pita?

Bila Anda mempunyai jawaban yang lebih tepat, silakan tulis pada kolom komentar. Terima kasih.

Referensi: Wikipedia dan Kompasiana

Leave a Reply

*