Hadiah Ulang Tahun Terbaik Untuk Anak Saya Saat Ini

Namanya Alfi Farhani Wahdah. Saat dilahirkan, putri kedua saya ini nyaris merenggut nyawa ibunya. Alfi lahir melalui proses operasi caesar. Operasi terpaksa dilakukan karena kondisi istri saya waktu itu sudah kritis. Pecah ketuban di rumah pada pukul 3 dini hari, persalinan dibantu bidan desa namun tidak berhasil sehingga bidan merujuk istri saya ke Rumah Sakit Umum dr. Slamet Garut.

Rumah saya di perdesaan, jarak ke kota sangat jauh. Berangkat dari rumah sekira pukul 12.30 WIB, baru tiba di rumah sakit pukul 15.00 WIB. Hingga menjelang adzan magrib, bayi masih belum lahir padahal dokter sudah membantu persalinan istri saya dengan bantuan alat.

Akhirnya dengan tangan gemetar, saya harus menandatangani surat pernyataan antara hidup dan mati. Istri saya harus segera dioperasi.

Sampai hari ini pun masih terbayang, istri saya berbaring lemas tidak berdaya di atas brankar. Perawat berlari membawanya dari ruang bersalin menuju ruang operasi. Wajah istri saya sudah terlihat pucat, namun dia masih berusaha melempar senyum.

Dari situ saya sadar betapa beratnya perjuangan dan pengorbanan seorang ibu. Pantas saja Rasulullah saw menjawab ibu tiga kali ketika ada seseorang yang bertanya “kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”.

Hadiah Untuk Masa Depan Anak

Dokpri

Alfi tumbuh normal seperti balita lainnya. Namun dia punya sedikit kelainan fisik, yaitu bentuk kepalanya tidak simetris yang disebabkan oleh upaya vakum saat dia akan dilahirkan.

Sejak balita, anak ini punya kebiasaan berbeda dari teman sebayanya. Kalau di bawa ke warung, Alfi suka nangis minta dibelikan buku dan alat tulis. Bahkan setelah masuk PAUD, sekira usia 6 tahun, anak ini sudah mulai menabung buat beli buku sendiri.

Tabungannya unik, bukan di celengan atau di guru sekolahnya. Dia menyimpan sisa uang jajannya di dalam tumpukan buku.

Setelah masuk SD, saya coba memberikan uang jajan per minggu dengan maksud mendidiknya berhitung dan belajar mengatur uang jajan.

“Mau dihabiskan sehari, dua hari atau tidak jajan sama sekali ,terserah! Tapi kalau semuanya habis dalam sehari, besok Alfi tidak bisa jajan. Itu uang jajan Alfi untuk 7 hari.”

Alhamdulillah, metode itu berhasil. Alfi sudah punya hitung-hitungan sendiri, berapa dia boleh jajan dalam sehari. Tiap minggu uang jajannya tidak habis semua, sebagian dia simpan buat beli buku bacaan atau buku gambar.

Pernah suatu hari, tepatnya hari Minggu. Dia mengajak ibunya ke pasar, minta diantar beli buku sambil menyerahkan uang receh Rp. 17.000. Istri saya tak menerima uang itu, dia malah menangis sambil memeluk Alfi.

Alfi yang belum mengerti, mengira ibunya menangis karena tidak punya uang. Dia lantas berbicara pada ibunya, “tidak jadi ke pasarnya, ini uangnya buat ibu aja.”

Saya terharu dan bangga menyaksikan tingkah anak itu. Di balik itu, sebagai anak-anak, Alfi juga kadang nakal seperti anak-anak pada umumnya. Namun hal itu tak membuat saya dan istri marah, justru menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk bisa menemukan bakat anak di balik kenakalannya itu.

Empat hari lagi, tepatnya 9 April 2017, usia Alfi genap 7 tahun. Saya ingin membelikan buku dan perlengkapan sekolah di Evelenia.co.id untuk hadiah ulang tahunnya. Karena saat ini anak saya lebih membutuhkan buku dibanding gadget. Selain itu, menurut saya dalam memberikan hadiah itu harus sesuai dengan kebutuhan anak, bukan kemauannya atau kemauan orang tua.

Pernah saya tawari, hadiah ulang tahunnya mau buku atau smartphone?

Alfi mintanya hadiah buku. Mungkin dia juga tahu kalau minta smartphone tak akan dikasih.

Mendidik anak memang bukan hal mudah. Butuh kesabaran ekstra dan terus belajar. Bagaimanapun keadaannya, anak adalah titipan Tuhan. Kita wajib mengurusnya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang.

Bagaimana masa depan Alfi? Entahlah, tugas saya sekarang mempersiapkan dia untuk mampu menghadapi masa depannya sendiri.

Leave a Reply

*