Home / Opini / Fenomena Konten Copas di Indonesia

Fenomena Konten Copas di Indonesia

Konten copas atau hasil copy paste memang tidak disukai oleh pembuat konten aslinya. Namun situs web atau blog yang kontennya original 100% mungkin bisa dihitung jari. Termasuk saya, walaupun bukan copaser murni tapi kadang saya suka copas ide tema atau gambar.

Kalau kontennya tidak dilindungi hak cipta tidak akan terlalu masalah, meskipun sebenarnya melanggar etika. Tapi kalau sudah copas artikel atau gambar yang dilindungi hak cipta, copaser bisa kena batunya. Kalau dia ngeblog di blogger biasanya Blogger.com langsung menghapus blognya, kalau di WordPress misalnya iklan AdSense tidak tampil atau malah dikeluarkan dari keanggotan Google AdSense. Lebih jauhnya, copaser bisa dituntut ke pengadilan.

fenomena konten copas
Ilustrasi konten copas [source]

Bukan hanya saya, atau kebanyakan blogger lainnya. Blog sekelas hipwee pun sama, mereka mengambil gambar-gambar dari situs lain. Bedanya, hipwee lebih jantan menyebut sumbernya, sedangkn kita jarang. Padahal pembaca tahu gambar yang dimuat di blog kita bukan hasil karya kita.

Hadeuh…jadi malu sendiri.

Website besar seperti portal berita pun begitu. Tidak semua berita, tips atau artikel di portal berita nasional murni hasil laporan wartawan mereka. Ada juga yang hasil rewrite, baik dari portal berita nasional lainnya atau dari situs luar negeri.

Namun gaya copas portal berita ternama memang berkelas, mereka tidak copy paste mentah-mentah. Maksud atau isi beritanya sama, tapi redaksinya berbeda dan tidak malu menyebut sumbernya. Lagi-lagi, kita jarang menyebut sumber ide tulisan di blog kita.

Beberapa blogger sering menyebutkan, walaupun menulis sumbernya, namun konten copas 100% tetap tidak disukai sebab mesin pencari akan menemukan duplikat konten. Kemungkinan terburuk konten original ditendang ke bawah, sedangkan konten copas naik ke page one SERP.

Faktanya memang banyak konten bajakan, hanya dengan mengganti judul saja namun isi 100% sama, bisa mendapatkan banyak pengunjung. Bahkan kalau dilihat share count artikelnya bisa sampai ribuan. Situs-situs copaser ini memanfaatkan facebook untuk mendatangkan trafik, beritanya bagus karena dibuat oleh profesional di portal berita ternama sehingga menjadi viral dan menyebar di ribuan akun facebook.

Contohnya blog-blog berita pendidikan dan berita politik terhangat. Saya pernah mencoba membuat blog pendidikan, awalnya saya rewrite tapi kalah cepat oleh kompetitor. Setelah diperhatikan, hampir semua kompetitor kontennya copas murni. Cuma ditambahkan basa-basi 1 paragraf di awal dan kalimat penutup di akhir berita.

Terus terang, akhirnya saya jadi ikut-ikutan langsung copas beberapa berita (tidak lebih dari 10) lalu ditambah paragraf basa-basi. Tapi walaupun visitor cukup ramai, tak ada kepuasan yang diperoleh. Akhirnya kurang semangat untuk mengurusnya.

Saya pikir tidak elok blog pendidikan postingannya konten copas semua. Mayoritas authornya kan guru, bagaimana nanti murid-muridnya? Bisa-bisa di Indonesia jadi plagiator semua.

Jika dipikir sepintas agak heran, konten copas tapi Google AdSense bisa tayang di situ. Untuk ini saya juga kurang tahu, tapi prediksi saya kalaupun akun AdSensenya dibanned mereka bisa beli lagi.

About Husni Cahya Gumilar

Husni Cahya Gumilar

Blogger Garut, Jawa Barat. Lembur banjar karang pamidangan pituin ti Banjarwangi.

4 comments

  1. Imam Munandar

    wah lumayan kesindir nih, tapi saya mah rewrite kang hehehe

  2. wkwkwk. terkadang kalau ide nya mentok sih pengen copas juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *