Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Berita / Inspiratif! Bripka Seladi, Anggota Satlantas Polres Kota Malang Nyambi Jadi Pemulung

Inspiratif! Bripka Seladi, Anggota Satlantas Polres Kota Malang Nyambi Jadi Pemulung

Bripka Seladi (57) namanya mendadak tenar dan menuai pujian netizen setelah kisahnya diberitakan oleh sejumlah media lokal, regional dan juga nasional. Ia menjadi polisi sejak tahun 1977, dan selama 16 tahun dia bertugas di Urusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Polres Malang Kota.

Bripka Seladi menjadi perbincangan netizen karena selepas tugas dia nyambi jadi pemulung sampah. Usaha yang sangat jarang dilakukan oleh anggota kepolisian. Karena usahanya yang tidak biasa dilakukan oleh anggota polisi ini membuat Seladi dipanggil pimpinannya di Mapolres Malang Kota.

Seperti dilansir Tribunnews.com, Kamis (19/5/2016), Wakapolres Malang Kota Kompol Dewa Putu Eka memanggil Seladi dan berbincang dengannya. Saat ditanya pimpinannya, Bripka Seladi menjawab apa adanya. Ia mengaku terhimpit kebutuhan ekonomi, tapi ia tidak mau mencari uang tambahan dengan memanfaatkan jabatannya sebagai anggota kepolisian. Walaupun sebagian orang beranggapan posisinya berada di ‘lahan basah’.

Bripka Seladi, angota polisi Polres Malang yang jadi Pemulung

Sebelum terjun ke bisnis sampah, Seladi sempat bisnis jual beli barang elektronik. Namun usahanya gulung tikar karena kena tipu sampai ia memiliki utang sebesar Rp. 150 juta yang dipinjamnya dari koperasi kepolisian.

Bisnis sampingan sebagai pemulung ia jalani sejak 8 tahun lalu. Ia berkeliling menggunakan sepeda onthel untuk mencari sampah.

“Sudah delapan tahun bekerja sampingan ini. Sampah ini rezeki, sayang kalau dibiarkan,” ujar Seladi (Suryamalang.com 17/5/2016).

Yang membanggakan dan menginspirasi kita semua adalah selain tidak malu untuk melakukan pekerjaan halal, ia juga tidak mau menerima pemberian orang yang membuat SIM. Ia lebih memilih pekerjaan sampingan sebagai pemulung daripada memanfaatkan jabatannya sebagai anggota Polisi.

Ia mengaku ada saja orang yang buat SIM tidak lolos, lalu memintanya meloloskan sambil ngasih uang. Namun Bripka Seladi menolaknya atau menyuruh memberikan uang itu ke masjid. Menurut Seladi, mereka tidak lulus ujian bukan karena tidak bisa, melainkan grogi karena ditunggui polisi.

“Sebenarnya, pencari SIM itu bukannya tidak bisa mengikuti ujiannya, tetapi grogi karena ditunggui polisi. Kok ditunggui, orang awam saja kalau ketemu polisi di jalan grogi,” tuturnya.

“Kalau umpama sehari dikasih uang Rp. 50.000 kali 20 orang misalnya dikalikan 16 tahun, hasile lek isa mbendung kali Brantas (bisa membendung sungai Brantas). Bisa beli rumah di Araya (salah satu perumahan elit di Kota Malang). Tetapi saya tidak ingin, karena itu bertentangan dengan hati nurani,” terangnya.

Kini, setahun menjelang masa pensiun, Bripka Seladi masih memiliki utang sebesar Rp. 20 juta ke bank dan koperasi kepolisian. Namun ia memilih hidup sederhana, dengan gaji polisinya dan penghasilan dari sampah.

Hebatnya lagi, Bripka Seladi tidak malu menceritakan pekerjaan sampingannya itu kepada pimpinannya dan banyak orang, karena menurutnya itu adalah pekerjaan halal. Dia juga selalu mendahulukan tugasnya sebagai polisi. Ia selalu ikut apel, mengatur lalu lintas, mengurusi ujian SIM, juga melakukan pengamanan berkala kalau ada kegiatan di Kota Malang.

Dari sekian banyak orang yang telah mengetahui kisahnya, tak ada satu pun yang mencela atau menghina. Justru semua bangga dengan Bripka Seladi.

“Tidak jijik, ini kan juga rezeki saya,” tuturnya (Suryamalang.com)

Belum cukup sampai di situ, Seladi mendapat bantuan mie dari pengusaha di Sidoarjo. Karena mie yang diterimanya banyak, ia pun membagikan mie tersebut ke orang-orang di sekitarnya.

“Saya salut kepada beliau. Apa yang dia lakukan merupakan pekerjaan halal, dan tidak menelantarkan pekerjaan utamanya sebagai polisi,” kata Wakapolres Malang Kota Kompol Dewa Putu Eka (dikutip dari Tribunnews.com, 19/5/2016).

Semoga Bripka Seladi menjadi inspirasi kita semua.

About Husni Cahya Gumilar

Tetangga mengenal saya sebagai Guru Honorer, Blogger, Traveler & Web Developer. Dulu saya manis semanis dodol Garut, tapi sekarang imut seimut domba Garut. Ya, orang Garut memang manis dan imut.

One comment

  1. insfiratif sekali….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*